Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
11.13.2013 0 komentar

Pemimpin Itu Sakral

Mereka yang seharusnya menggerakkan warga. Mereka yang sudah sepatutnya memberi contoh kepada masyarakat. Mereka yang selayaknya mengayomi kita. Mereka yang seharusnya membuka jalan inovasi untuk kehidupan yang lebih baik. Dan merekalah yang dengan kebijaksanaan dan ketegasannya menciptakan keadilan di atas muka bumi ini. Begitulah seklumit opiniku yang setidaknya bisa menggambarkan kriteria seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang bisa benar-benar menjadi pemimpin. Mungkin tidak akan sempurna tanpa kesalahan. Tetapi paling tidak dia bisa meminimalisir kesalahan yang dia perbuat. Sehingga dengan kapabilitasnya, ia bisa menghadirkan sebuah dunia baru yang paling tidak bisa mendekati Negeri Utopia.

Kita refleksikan sedikit semua itu dengan kondisi kita sekarang. Kondisi pemimpin kita yang dipilih secara demokrasi, sesuai pilihan rakyat dan apalah itu namanya. Tanpa mengurangi rasa hormat dan tunduk saya terhadap ulil amri saat ini, kita bisa melihat sendiri angka-angka pertumbuhan ekonomi yang sangat tidak sesuai dengan realitas. Mungkinkah angka itu dimanipulasi? Bisa saja. Atau mungkinkah angka itu menunjukkan jurang antara si kaya dan si miskin? Mungkin saja. Tapi bagaimanapun juga, beginilah kondisi kita saat ini. Berita yang penuh sesak oleh korupsi dan kriminalitas, kawasan kumuh yang lebih layak disebut tempat sampah, pemuda yang dididik hanya untuk menjadi tenaga rendahan, dan masih banyak sekali problem yang menggunung di negeri yang luas ini.Apakah ini hasil reformasi dan demokrasi yang katanya membawa kemaslahatan bagi negeri ini? Mungkin saja iya. Kita masih saja terlena dengan euforia kebebasan yang digembor-gemborkan atas nama hak asasi manusia. Sampai-sampai terlalu dijiwainya sebuah kebebasan itu, hingga terkadang kita lupa akan dua hal. Hak orang lain, dan hak tuhan untuk disembah. Kita terbuai dengan angan-angan panjang menjadi ini dan itu yang untuk mendapatkannya kita harus bersaing dan menjatuhkan orang lain. Bahkan, kekuasaan pun tak luput dari lingkaran kompetisi!

Bagi saya pribadi, kepemimpinan adalah ssesuatu yang sakral. Dia harus bisa menyelesaikan setumpuk problem dalam dan luar negeri, meningkatkan kesejahteraan umat yang dipimpinnya, dan memberikan sebuah barang langka yang biasa kita sebut keadilan. Saking sakralnya posisi tersebut, membuat kita rela menyediakan fasilitas lebih bagi sang pemimpin. Sehingga beliau bisa menjalankan tugasnya dengan maksimal. Namun bagaimana kenyataannya pada saat ini? Sepertinya ke-sakral-an itu sudah tergerus dengan pemikiran filosofis bernama demokrasi. Di mana kepemimpinan sekarang menjadi sebuah ajang kompetisi lima tahunan bagi mereka yang sudah mencapai kondisi financial freedom dan mencoba untuk mengaktualisasikan diri dengan kedok 'mengabdi kepada negara'. Kini posisi sakral tersebut bisa diperebutkan dengan sebuah pertaruangan sengit bernama Pemilu. Dengan pemilu tersebut mereka-mereka yang merasa mampu menduduki posisi itu bebas menajukan diri hanya bermodalkan tumpukan KTP yang menandakan dukungan pemilik KTP terhadap sang calon tadi. Begitulah praktik demokrasi. Dengan menjual janji-janji manis, mereka berlomba-lomba untuk bisa membeli rakyat sebanyak-banyaknya. Masalah janji apakah akan direalisasikan, itu menjadi urusan belakang. Saya sedikit bingung dengan sistem seperti ini yang jelas menyamakan semua suara. Tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap seluruh lapisan masyarakat, menurut saya akan lebih bijak ketika yang memiliki hak suara adalah mereka-mereka yang mempunyai dasar-dasar ilmu yang kuat, orang-orang yang memiliki ahli dibidang masing-masing, dan perwakilan dari berbagai kelompok. Sehingga paling tidak pemimpin tersebut bisa mengakomodir semua elemen di masyarakat dan memiliki ilmu-ilmu yang dibutuhkan dalam memimpin. KArena jelas sekali berbeda bobotnya ketika seorang yang tak tahu apa-apa dan minim pengetahuan memilih seseorang dengan orang-orang berilmu yang memilih. Secara logika tentu mereka-mereka yang berilmu lebih mempunyai alasan kuat dan mengetahui latar belakang sang calon pemmpin. Sedangkan orang yang belum berilmu tadi hanya memilih berdasarkan apa yang ia lihat secara kasat mata tanpa adanya pengetahuan yang lebih mendalam.

Kita lihat sedikit ke alam realitas. Faktanya, mereka sendiri yang memiliki ilmu justru mempunyai sisi yang kosong. Yakni moral dan spiritualitas. Sehingga ketika sistem ini yang dipakai, akan sangat rawan untuk diterapkan. Karena pasti ada kemungkinan yang besar terjadinya praktek suap-menyuap. Ditambah lagi minimnya kepercayaan masyarakat akan mereka yang notabene merupakan orang-orang berilmu. Lalu bagaimana solusinya? Tentu dengan ketatnya pengawasan hukum dibarengi dengan penanaman nilai spiritualitas dan moral agar kesadaran untuk jujur itu bisa tumbuh dan menjadikan mereka menjadi teladan sesungguhnya bagi masyarakat yang sedang mencari panutan. Sehingga anomie yang sudah berlarut-larut ini bisa cepat berakhir. Saya sebagai seorang muslim tenntu sangat terkagum-kagum mengenai keberhasilan sistem ini ketika diterapkan pada zaman Khulafa'ur Rosyidin dan masa Khalifah Umar Bin Abdul Aziz. Di mana negara tersebut adalah negara muslim, maka ulama lah yang ikut berperan dalam memilih pemimpin tersebut. Banyak buku yang sudah melukiskan betapa indahnya negara tersebut. Bahkan dikisahkan pada zaman Umar Bin Abdul Aziz, pemerintah kebingungan bagaimana mereka menyalurkan zakatnya. Karena saat itu sudah tidak ada lagi yang berhak mendapatkan zakat tersebut.

Menurut saya sendiri, demokrasi hanya bisa diterapkan di sebuah negara yang tingkat pendidikannya tingi. Entah dari sisi disiplin ilmu, ataupun dari sisi spiritualitas dan moralitas. Sehingga masyarakat sendiri bisa lebih kritis  dalam menentukan sebuah pilihan. Mereka memilih bukan hanya dari apa yang ia lihat dengan mata telanjang. Lebih dari itu mereka bisa menganalisa dan memberi penilaian dan akhirnya memilih sesuai penilaian mereka. Bahasa gampangnya, tidak mudah dibohongi. Karena Filsuf Yunani kuno semacam Aristoteles dan Plato pun sudah mengingatkan akan bahayanya sistem demokrasi. Yakni pertimbangan untuk memilih yang bukan merupakan pertimbangan inti. Dan itulah kondisi yang sedang dialami oleh negeri ini yang menurut saya membuat negeri ini belum siap menerapkan sistem demokrasi itu sendri. 
7.02.2012 0 komentar

Biarkan Mereka. . . Tetap Liar!!


PERATURAN MENTERI KEHUTANAN
NOMOR : P.53/Menhut-II/2006

Dalam butir kelima tertulis "Kebun Binatang adalah suatu tempat atau wadah yang mempunyai fungsi utama sebagai lembaga konservasi yang melakukan upaya perawatan dan pengembangbiakan berbagai jenis satwa berdasarkan etika dan kaidah kesejahteraan satwa dalam rangka membentuk dan mengembangkan habitat baru, sebagai sarana perlindungan dan pelestarian jenis melalui kegiatan penyelamatan, rehabilitasi dan reintroduksi alam dan dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan, penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sarana rekreasi yang sehat;"

Dari kutipan diatas seharusnya kebun binatang merupakan tempat konservasi eks-situ yang menampung binatang-binatang liar yang habitatnya di rusak oleh manusia demi kepentingan bisnis. Binatang tadi dirawat, dilindungi, dan di kembangbiakkan di situ. Manfaat lain dari kebun binatang merupakan tempat untuk berekreasi serta sebagai sarana edukasi bagi anak-anak khususnya pelajar. Biasanya di dalam kebun binatang tersebut banyak terdapat berbagai macam satwa-satwa liar yang dilindungi karena keberadaannya hampir punah. Kemudian disana juga terdapat sirkus dari binatang yang sudah dilatih. Mereka menampilkan berbagai atraksi yang umumnya hanya bisa di lakukan manusia atau bahkan hanya sebagian orang yang dapat melakukannya. Atraksi para binatang tadi sangat menarik para wisatawan. Sehingga membuat kebun biatang selalu ramai oleh pengunjung.


Tapi taukah anda apa yang ada di balik semua itu? Sebuah penelitian yang dilakukan oleh COP (Centre for Orangutans Protection) dengan meneliti kondisi urangutan di berbagai kebun binatang di Indonesia. Dan hasil dari penelitian tesebut secara umum tidak baik. Mungkin jika diadakan penelitian tentang satwa lain hasilnya akan sama. Karena mereka hidup pada tempat yang sama. yaitu di balik jeruji besi dengan ruangan yang sempit. Saya di sini akan mengambil sampel tentang orangutan. Kita tahu jika orangutan adalah hewan primata yang suka bergelantungan di pohon. Oleh karena itu, orangutan membutuhkan pohon-pohon tinggi dan bercabang agar mereka terbebas dari stresdan bergelantungan dengan bebas. Bukan di kandang besi yang didalamnya hanya ada sebatang ranting yang pendek dan di ruangan sempit. Hal ini akan menimbulkan stres dan trauma bagi orangutan. Mereka juga seharusnya berkumpul dengan keluarga besarnya. Bahkan jika hewan itu adalah hewan sirkus, maka dia akan di paksa keras untuk berlatih menunjukkan berbagai macam atraksi.Tak sedikit pula yang mendapatkan siksaan agar mau menuruti perintah sang pelatih sirkus. Apakah seperti tukah yang disebut tempat konservasi? Di mana para penghuninya selalu merasa stres dan dipaksa untuk melakukan suatu hal yang di luar nalurinya. Lalu, di manakah terdapat edukasi di dalamnya? Apakah dengan menatap para binatamg yang menderita adalah sebuah edukasi? Dalam pelajaran biologi, salah satu bab yang terdapat di dalamnya yaitu mempelajari tingkah laku hewan. Hal itu hanya bisa kita dapatkan dengan mempelajarinya lebih dekat di alam bebas. Karena di alam bebas memungkinkan satwa untuk bergerak dan beraktivitas. Bukan dengan menatap binatang yang hanya terdiam dalam sangkar yang sempit.

Maka dari itulah pantas jika kebun binatang disebut sebagai tempat penyiksaan hewan. Karena di dalamnya para binatang tersiksa dengan kandang yang sempit dan tak bebas untuk bergerak. Di dalam kebun binatang, para penghuninya dijadikan sebagai alat pencetak uang dengan mempertontonkan sesuatu yang di luar dari nalurinya. Sesungguhnya binatang bukanlah mainan yang bisa diperjualbelikan atau digunakan sebagai alat pencetak rupiah. Mereka sama seperti kita. Membutuhkan keebasan, kebahagiaan serta perlindungan dari kita. Dan jika kita ingin mempelajarinya, maka datanglah ke habitat aslinya dan amatilah segala aktivitasnya. Bukan pergi ke kebun binatang dan menatap hewan yang menderita dalam jeruji besi. Itu bukanlah sebuah edukasi atau pendidikan yang benar.




Repost
6.30.2012 0 komentar

Straight Edge


Straight edge merukan sebuah subkultur dari punk yang menjadi counter culture dalam penggunaan narkoba, rokok, alkohol dan perilaku seks bebas yang terjadi dalam lingkungan punk rockers. Straight edge lebih kepada lifestyle yang berpusat dalam pengembangan diri sendiri menjadi lebih baik sembari tetap bersenang-senang dan berkumpul dalam sebuah komunitas.Straight edge bukan merupakan dogma. Artinya, dalam straight edge tidak ada peraturan yang mengharuskan melakukan ini dan itu. Semua kamu yang menentukan. Dan filosofi yang mendasar dalam straight edge adalah self-control atau pengawasan terhadap diri sendiri. Mereka yang mengaku sebagai straight edge akan menjauhi semua jenis obat-obatan, rokok, alkohol, serta perilaku seks bebas.


Pergerakan straight edge bermula pada tahun 1981 di Washington DC ketika band Minor Threat menciptakan sebuah lagu berjudul straight edge yang ditulis oleh Ian MacKaye. Lagu tersebut berisikan tentang bagaimana Minor Threat menghadapi penyalahgunaan narkoba serta kehinaan jika terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan berbahaya. Dan dalam lagu out of step, juga berisikan himbauan untuk menjauhi rokok, alkohol dan kebiasaan seks bebas. Karena mereka beranggapan bahwa hubungan seks bukan untuk berganti-ganti pasangan. Dalam perkembangannya juga ada istilah vegan straight edge. Yaitu sebuah komunitas straight edge yang vegetarian karena peduli terhadap hewan.


Dalam perkembangannya, sejarah straight edge melampaui 4 masa secara umum. Yang pertama masa atau era oldschool. Masa itu dipengaruhi oleh band-band hardcore punk seperti minor threat, 7 seconds dan SSD. Musik mereka terdengar seperti orang yang sedang berorasi diiringi dengan musik yang menghentak keras dan cepat. Masa kedua yaitu masa youth crew. Pada masa ini band-band straight edge terdengar tipikal. Dan di masa inilah berkembang vegans straight edge yang dipelopori oleh youth of today. di masa selanjutnya, atau era militan, berkembang band-band straight edge yang bersifat militan. Mereka cenderung mudah menuduh, dan minim toleransi. Sehingga sangat mudah terjadi kekerasan. Salah satu band era militan ini  ialah earth crisis. Dan di era milenium baru cap-cap negatif terhadap band-band straight edge kembali pulih. Mereka lebih toleransi terhadap band-band non-straight edge. Mereka mulai berbaur dan mau untuk satu panggung dengan band-band non-straight edge.


Dalam straight edge, Adanya simbol X sudah tidak asing lagi. Hal tersebut bermula ketika band The Teen Idles sedang melaksanakan tour di San Fransisco. Dan mereka bermain di sebuah bar bernama Mabuhay's Garden. Ketika itu, usia mereka masih sangat muda. Usia mereka belum mencukupi untuk mengkonsumsi alkohol.  Sehingga pemilik bar memberikan tanda X di punggung tangan mereka agar para bartender tidak memberikan minuman beralkohol pada mereka. Dan setelah mereka kembali ke Washington DC, mereka mempopulerkan tanda X sebagai simbol dari straight edge. Selain simbol X, ada juga trio X atau XXX. Lambang tersebut mempunyai makna tersendiri. X pertama untuk tidak merokok, X kedua untuk tidak mengkonsumsi alkohol dan narkotika, serta X ketiga melambangkan untuk tidak melakukan hubungan seks di luar nikah.


Meski sering dicap "anak mami", kehadiran pergerakan straight edge ini cukup membantu bagi para remaja. Straight edge bisa menjadi pagar arus hedonisme yang semakin tak terbendung. Straight edge juga memeberikan warna baru bagi scene musik underground yang sering disebut sebagai biang rusuh, sampah masyarakat ataupun cap negatif lainnya. Straight edge bisa membuktikan bahwa tak semua scene underground itu bersifat negatif.




repost
6.29.2012 0 komentar

The Power Of Music



Saat ini, musik bukan lagi merupakan hal yang asing dalam kehidupan sehari-hari kita. Di mana saja, kita dapat dengan mudah mendengarkan berbagai alunan musik dari genre yang bermacam-macam.Bahkan media massa pun selalu di hiasi dengan hal-hal yang berbau tentang musik.Musik seakan-akan telah merasuk dan menjadi bagian penting dalam kehidupan seseorang. Umumnya, orang mendengarkan musik sebagai hiburan ataupun ungkapan perasaan yang sedang dirasakan seseorang. Tapi, tak ada yang menduga jika musik dapat menjadi sebuah media resistensi terhadap berbagai macam ketimpangan sosial yang merebak di masyarakat. Seperti rasisme, fasisme serta kekejaman rezim penguasa.

Dewasa ini, Semakin banyak para musisi yang melakukan perlawanan melalui musik dengan berbagai genre. Mulai dari blues, punk, reggae, hiphop hingga pop pun tak kalah ikut ambil bagian dalam upaya menyuarakan aspirasi mereka melalui musik. Punk misalnya, scene musik yang lahir dari semangat para remaja kelas pekerja yang merasa didiskriminasi oleh kaum penguasa ini selalu bernyanyi dengan lirik penuh sindiran terhadap para rezim yang berkuasa. Dan tak jarang lirik-lirik itu membuat para kalangan atas naik pitam. Genre musik yang lahir tahun 1970an itu juga menyuarakan ketidakadilan dalam industri musik pada saat itu. Dimana industri musik pada saat itu dikuasai oleh musisi rock kelas mapan seperti Rollingstone, Elvis Presley dan The Beatles. Musik-musik punk di anggap tidak laku dan tak layak edar sehingga musisi punk dianggap sebaga 'rock n roll jalur kiri' karena lirik-liriknya menceritakan tentang kekejaman rezim penguasa, aparat, serta kemarahan yang mirip seperti teriakan demonstran. Biasanya musik bergenre punk berisikan tentang, ketidakadilan, anarkisme atau kebebasan, rasisme dan fasisme, serta masih banyak lagi.Dan umumnya, musik punk dimainkan dalam tempo yang cukup cepat serta enerjik dan biasanya berbentuk grup band. Grup band punk yang berpengaruh di dunia antara lain Sex Piatol, The Clash, dan NOFX yang masih eksis hingga saat ini.

Di indonesia sendiri skena punk berkembang dengan cepat dan menjamur sejak tahun 1990an. Musik punk di sini cenderung lebih menekankan perlawanan terhadap industri musik mainstream yang ada. Kita bisa melihat semua itudari lagu TV Brain yang dibawakan oleh Superman Is Dead. Dalam lagu ini di ceritakan bagaimana busuknya para pelaku yang terlibat dalam kubus yang mengeluarkan gambar dan suara itu. Serta peranan televisi yang membuat arus globalisasi semakin tak terbendung dengan sistem neoliberalisme ekonomi yang menyebabkan kalangan bawah semakin terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan. Selain dari jalur musik, para 'punk rockers' juga melakukan resistensi melalui media fashion. Di mana para 'punk rockers' membuat clothing distro sebagai bentuk perlawanan anak muda yang konsumtif dengan mendewakan clothing luar negeri macam levi's, nike, serta adidas.Hal itu merupakan sebuah wujud implementasi dari ideologi mereka yang 'do it yourself'.

Dalam skena musik blues pun tak jauh beda latarbelakangnya dengan scene musik punk. Berawal dari para budak kulit hitam di amerika, mereka menyuarakan tentang rasisme. Krena pada masa itu golongan afrika atau kulit hitam dijadikan budak. Setiap mereka bekerja ataupun istirahat di sore hari, mereka selalu menyanyikan lagu pujian kepada allah dan di selingi lagu sedih(blues) khas afrika. Dan tentunya dengan lirik perbudakan.Mungkin saat ini musik blues sudah mulai punah di telan waktu. Tapi sebuah acara betajuk 'BLUES FOR FREEDOM' menunjukkan masih eksisnya scene blues di tanah air.

Selain itu masih ada scene musik pop yang umumnya dipennuhi dengan senandung merdu melankolis bertemakan cinta. Tetapi, ternyata musik ini juga cukup manjur untuk menyampaikan sebuah perlawanan. Di buktikan dengan sindiran Iwan Fals dalam lagu 'Demokrasi Nasi' dan 'Pola Sederhana' yang membuat dirinya harus berurusan dengan pihak berwenang dalam 2 minggu. Kemudian masih ada Efek Rumah Kaca denan lagu-lagunya yang berisikan sindiran terhadap anak muda yang konsumtif dan mendewakan cinta lewat lagu 'cinta melulu' dan 'Jatuh Cinta Itu Biasa Saja' serta lagu 'Belanja Terus Sampai Mati'.

Beberapa contoh tadi membuktikan bahwa musik tidak hanya sekedar hiburan semata. Lebih dari itu, musik juga mampu digunakan sebagai media perlawanan terhadap sesuatu. Efek musik dalam dunia politik sudah bisa dirasakan. Terbukti dengan tidak terpilihnya Bush sebagai presiden amerika lagi karena musisi disana bersatu dan sepakat untuk tidak memilih lagi Bush. Para musisi menolak Bush dengan berbagai cara. Mulai dari pamflet, sampai membuat album kompilasi. Dan sudah saatnya sekarang musik juga harus dapat mempengaruhi kondisi politik di Indonesia. Karena musik sekarang sudah menjadi sesosok makhluk yang bisa melakukan perubahan.

Repost 
2.29.2012 0 komentar

Pelangi Itu Indah

Pelangi, mungkin akan sedikit jarang kita temui. Dia hanya muncul pada saat - saat tertentu dan tak bisa diprediksi. Dan ketika kita melihatnya, pasti kita akan sedikit takjub. Karena terdapat warna - warna yang indah seolah menghiasi langit yang biru. Begitu pula hidup kita. Hidup kita tak jauh dari pelangi itu.

Mengapa bisa seperti itu? Kita hidup tentunya tak sendiri. Kita hidup pastinya mempunyai orang - orang yang selalu berada di sekitar kita. Entah mereka selalu menyukai dan memberi kita semangat, ataupun orang - orang yang selalu membenci dan mencoba untuk menjatuhkan kita. Namun, biasanya, iri, benci, dan segala jenisnya itu muncul karena adanya perbedaan. Seperti pendapat, kepentingan ataupun pandangan terhadap sesuatu. Ya, terkadang perbedaan memang menimbulkan perpecahan dan kebencian. Tapi dari sisi lain, perbedaan bisa semakin melengkapi apa - apa yang tidak kita miliki. Dengan kata lain, saling melengkapi.

Tentu kita sudah tahu bahwa manusia diciptakan di dunia ini pasti tidak ada yang sama. Mereka mempunyai banyak sekali perbedaan. Dari segi fisik maupun dari segi mental atau psikologisnya. Tak perlu jauh-jauh untuk mengambil contoh, di sekolahku saja banyak sekali murid yang berasal dari luar daerah asalku. Yaitu Yogyakarta. Umumnya mereka mempunyai tradisi atau budaya yang berbeda. Ada yang ketika berbicara sangat keras dan terkadang menyakitkan. Namun banyak juga teman-temanku yang bisa berbicara secara halus dan sangat enak didengar. Kemudian ada yang sangat sensitif ketika bercanda, ada juga yang berhati baja karena walaupun diejek bagaimanapun tak akan tersinggung. Awalnya, aku menganggap mereka bisa diperlakukan sama. Namun, setelah beberapa waktu aku mulai sadar bahwa mereka tak bisa diperlakukan sama. Karena memang kenyataannya mereka tak sama. Aku mulai beradaptasi dengan memperlakukan mereka seperti apa yang kutahu. Sehingga kita bisa berkomunikasi dengan siapa saja tanpa menimbulkan konflik. Bahkan bisa untuk saling membantu. Ketika ada seorang yang salah dan tak ada yang menegurnya, saat itulah orang yang mempunyai suara tegas dan menyakitkan untuk berani mengingatkan.

Untuk itulah, mau tidak mau kita harus bisa bertoleransi. Karena dunia ini penuh dengan warna yang tentunya tidak sama. Perbedaan itu wajar, tinggal kita sendiri yang harus sanggup untuk menanggapinya. jangan menganggap satu perbedaan itu menjadi sesuatu yang 'waw kok aneh ya? kok beda ya?'. Namun tanggapi saja sewajarnya. Karena itu adalah kodrat dari seorang manusia. Jadikan sesuatu yang berbeda tadi sebagai sebuah pengetahuan. Dan bila cocok dengan pemikiran kita, kenapa tidak ditiru? Itu kan baik. Intinya, perbedaan itu ibarat warna-warni pada pelangi di langit yang sangat indah ketika memandangnya. Karena warna-warna itu juga yang selalu menghiasi hidup kita.

10.24.2011 0 komentar

Kemana Perginya Teladan Kami?

Sebagai remaja, tentunya aku mengetahui sifat-sifat remaja seumuranku. Karena aku merasakan sendiri apa yang mereka rasakan. Mulai dari peasaan senang, sedih, sampai cintapun aku pernah merasakannya. Umumnya, remaja lebih menyukai sesuatu yang bersifat santai dan tidak terlalu serius karena akan menjadi beban. Itulah sebabnya para remaja lebh suka dengan sesuatu yang berbau kesenangan dan cenderung hedonism.

Begitu pula dengan pendidikan. Seorang remaja biasanya tidak menyukai tipikal guru yang tegas penuh dengan disiplin dan peraturan. Sebaliknya, para murid selalu menyukai metode pengajaran yang santai, penuh dengan kasih sayang, dan bersahabat. Umumnya, materi akan mudah tersampaikan jika seorang guru lebih bisa berperan sebagai 'teman' sang murid. Karena pada masa remaja itulah seseorang sangat dekat dengan temannya. Bahkan lebih dekat dari lingkungan keluarganya sendiri.

Sangatlah benar ketika JRX, penggebuk drum SID berkata, "Rumble Shop itu pembelinya rata-rata remaja, mungkin dengan cara-cara seperti itu pesannya mudah sampai, daripada mereka diberi penyuluhan. Karena remaja kan otaknya masih bersenang-senang. Kalau dikasih dengan cara-cara yang santai seperti ini lebih enak." ketika wawancara dengan akarumput.com saat ditanya alasannya tidak menyediakan plastik di RumbleShop. Memang seperti yang saya katakan tadi, remaja identik dengan kesenangan. Sehingga untuk bisa ikut berperan dalam mempengaruhi seorang remaja tadi, perlu untuk menyatu terlebih dahulu dengan orang itu. Baru kemudian mengajarkan sesuatu dengan cara memberi alasan atau merasionalkan apa yang akan di ajarkan tadi. Karena remaja sekarang tidak bisa menerima hanya sekedar doktrin atau ilmu tanpa adanya bukti konkret yang ada. Sehingga, perlu adanya pembuktian yang masuk akal dan rasional.

Seorang remaja umumnya sangat labil. Mereka sangat mudah terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya. Karena pada masa itu seseorang sedang mencari identitasnya. entah itu 'siapa aku' ataupun 'mau jadi apakah aku'. Biasanya yang sangat tampak bisa mempengaruhi seseorang adalah pertemanan. Karena melalui temanlah seseorang belajar mengenai mana yang baik, mana yang buruk menurut lingkungan sekitarnya. Beruntung jika ia hidup dalam lingkungan yang baik. Namun, jika seseorang tinggal di kawasan kumuh, ataupun lingkaran kemiskinan yang umumnya berdekatan dengan kriminalitas, ataupun prostitusi, besar kemungkinan ketika dewasa menjadi apa yang seperti di lingkungannya. Dari situ, bisa dilihat jika seorang remaja membutuhkan panutan atau teladan yang bisa membuat orang tadi menjadi lebih baik.

Namun, saat ini para remaja hanya disuguhkan dengan banyak sekali pengaruh negatif. Terutama dari media massa yang tak bosan-bosannya menyuguhkan tayangan yang hanya berisikan tentang kesenangan semata tanpa ada unsur edukasi yang berarti. Walaupun ada, mungkin hanya 10-20% dari seluruh tayangan yang ditawarkan. Padahal peranan media bagi remaja sangat terasa bagi pembentukan karakter. Karena dominasi media massa kini sudah sangat besar. Semua itu bisa terlihat dari banyaknya remaja yang menghabiskan waktu di depan berbagai media massa. Entah itu televisi, internet, ataupun media massa yang lain. Bahkan tak sedikit yang menganggap bahwa televisi hanya merupakan sampah yang tak perlu untuk dilihat. Karena isinya yang hanya bersifat destruktif semata.

Selain dari pengaruh media massa, kini para remaja juga dihadapkan pada krisis kepemimpinan yang terjadi. Karena tokoh yang pada hakekatnya merupakan panutan atau menjadi seorang teladan yang diperhatikan tak lagi memberi contoh yang semestinya dilakukan. Kita lihat saja para petinggi bangsa ini. Mereka sibuk dengan sendiri dengan mengeruk kekayaan sebesar-besarnya sebelum turun tahta. Ditambah dengan reshuffle kabinet yang baru saja terjadi. Mengindikasikan buruknya kinerja para nahkoda negeri ini. Bagaimana jadinya jika media hanya dipenuhi dengan berita kriminalitas, tindak KKN, ataupun terorisme? Apakah tidak malu dengan penerus bangsa ini? Bukankah seharusnya mereka memberi contoh? Bagaimana jika para remaja meniru perilaku mereka? Itulah seklumit pertanyaan yang muncul saat ini. Karena memang pribadi-pribadi yang seharusnya menjadi teladan malah melakukan sesuatu yang berbalik 180 drajat.

Lalu kemana perginya para teladan kami? Apakah mereka telah punah ditelan waktu? Tak adakah orang yang bisa menjadi teladan lagi? Kami masih muda, kami mempunyai potensi yang luar biasa. Untuk itu kami butuh seorang teladan yang bisa membimbing kami menjadi pribadi yang berguna di semua aspek.
10.18.2011 0 komentar

Ketika Bad Boy Menjadi Pahlawan

Seorang dianggap sebagai counter culture ketika ia selalu berperilaku untuk melawan segala sesuatu atau pemikiran yang ada di sekitarnya. Biasanya mereka mendapat label seorang 'bad boy' atau seseorang yang melanggar norma. Mereka selalu melakukan apa yang dilarang atau jarang dilakukan oleh anggota masyarakat lainnya. Seperti, mengonsumsi alkohol, nge-drugs, ataupun melakukan kegiatan free sex. Banyak dari mereka yang dicaci maki atau bahkan hingga sampai tidak diterima oleh masyarakat disekitarnya.

Namun semua counter culture tak selalu mendapat label seorang 'bad boy' di masa seperti sekarang ini. Mengapa? jelas saja di masa sekarang ini sesuatu yang di masa lampau merupakan sesuatu yang dilarang kini menjadi biasa saja bahkan sampai dibangga-banggakan. Sehingga makna 'bad boy' pada masa sekarang tidaklah sama dengan makna 'bad boy' pada masa silam. Mungkin di masa silam, 'bad boy' hanya diartikan sebatas orang yang berperilaku melawan tingkah laku yang biasa dilakukan oleh masyarakat pada umumnya. Seperti alkoholisme, dan teman-temannya. Namun kini, seiring berkembangnya teknologi dan berjalannya waktu, perilaku yang konformis di masyarakat semakin bergeser. Perilaku yang dahulu dianggap aneh atau tidak sesuai perlahan-lahan mulai menjadi kebiasaan yang ada di masyarakat dunia pada umumnya dan di Indonesia sendiri khususnya. Sebut saja. alkohol semakin marak, rokok semakin merajalela, virginitas bukanlah menjadi sebuah kehormatan, konsumerisme menjelma sebagai tuhan, dan gegsi yang semkin tajam. Hal seperti ini menyebabkan makna 'bad boy' yang kian tak jelas. Mau memakai arti di masa lalu rasanya sudah menjadi konformis. Mau menyesuaikan waktu, sepertinya hal itu tak mungkin. Karena akan membuat rancu sendiri makna kata 'bad boy' yang akan sama dengan 'good boy'.

Tapi, menurut saya pribadi makna kata 'bad boy' sendiri adalah mereka yang cenderung selalu melawan kebasaan masyarakat pada umumnya. Karena iulah ciri khas seorang 'bad boy'. Selalu melakukan resistensi terhadap apa yang ada. Sehingga konteks 'bad boy' tak selalu berarti seorang pemabuk, atau individu sejenisnya. Dan kata 'bad boy' sendiri tak mengenal batasan tempat dan waktu. Sehingga seorang akan selalu melakukan perlawanan dimanapun dan kapanpun. Sekarang ini banyak sekali orang yang ingin mendapat predikat sebagai 'bad boy' namun tak tahu apa arti dri bad boy itu sendiri. Sehingga mereka hanya mengartikan 'bad boy secara sempit dan seenaknya.

Melihat dari pendapat pribadi saya tentang 'bad boy' tadi, di era modern sekarang ini kita sangat membutuhkan banyak 'bad boy' untuk bisa melawan segala sesuatu yang kian bersifat distruktif ini. Terutama perilaku rmaja masa kini yang semakin liar dan tak terkendali. Melawan kuatnya arus hedonisme yang memporak porandakan masa depan negeri kita, hingga untuk bisa menyadarkan para pemimpin untuk tidak hanya mempertimbangkan keputusan dari ekonomi. Tapi juga dari aspek lain seperti ekologi, sosial dan aspek jangka panjang yang akan terjadi. Resistensi menjadi suatu hal yang teramat-sangat mutlak sekarang. Karena jika dibiarkan maka hancurlah populaai umat manusia dari muka bumi ini. Be a 'bad boy' man, We are younger. and make something to our country. Because, it's a dangerous problem guys.
10.16.2011 0 komentar

Ini Hidupmu

Dalam hidup, terkadang mungkin kita mengalami sebuah dilema dahsyat dalam menentukan suatu pilihan yang menyangkut tentang masa depan yang akan kita lalui. Banyak faktor yang bisa mempengaruhi semua pilihan kita. Terutama dorongan dari teman, dan orangtua yang biasanya mempunyai harapan tersendiri untuk masa depan anaknya.

Sangatlah wajar jika orangtua mempunyai sebuah ekspektasi besar terhadap seorang anak. Karena setiap orangtua pasti menginginkan buah hatinya tumbuh dan meraih kesuksesan yang mungkin belum pernah dicapai odalam hidup seorang ayah atau ibu tadi. Tapi seorang orangtua yang baik tentunya tidak terlalu memaksakan anaknya menjadi suatu profesi tertentu. Misal dokter. Kebanyakan orangtua di masa kini cenderung ingin anaknya menjadi seorang dokter. Karena selain gaji yang bisa di bilang 'waow' tapi juga anggapan banyak masyarakat yang menganggap dokter. Tapi seperti di artikel sebelumnya, semua itu hanyalah pandangan masyarakat zaman batu yang masih mengakar kuat dalam benak pikiran manusia modern di Indonesia. Seorang orangtua yang bijak seharusnya bisa mengetahui kecenderungan yang ada pada diri sang anak dan selalu memberi semangat kepada anaknya untuk terus mengembangkan potensi yang ada.

Seseorang mungkin akan mulai mengalami sebuah kebimbangan ketika ia mulai menginjak SMA. Karena pada saat itu seorang anak dihadapkan pada beberapa pilihan jurusan yang akan menentukan masa depannya. Di saat seperti inilah seseorang harus bisa mengenali siapa 'aku', mau jadi apa 'aku', dan apa 'potensiku'. Karena jika kita salah melangkah, pastilah kesuksesan yang sudah didamba-dambakan oleh orangtua kita akan sekejap sirna. Tapi, tak sedikit yang salah memilih karena berbagai faktor. Mulai dari orangtuanya sendiri, hingga karena pengaruh dari teman sekitar yang mendorong untuk masuk ke sebuah jurusan. Orang seperti inilah yang bisa dibilang tak mempunyai jati diri atau pandangan hidup sendiri. Karena ia hanya akan selalu mengekor terhadap apa yang ada di sekitarnya. Beruntung kalau lingkungan sekitarnya positif. Tapi kalau negatif? mau jadi apa? Preman pasar yang gak jelas? Atau anak yang selalu bergantung kepada kekayaan orangtua?

Di era modern ini, banyak sekali konflik antara seorang anak dan orangtua karena perbedaan pandangan yang bertolak belakang. Semua itu terjadi karena seorang anak dan orangtuanya sama-sama keras untuk mempertahankan apa yang masing-masing inginkan. Dalam hal ini, tak selalu orangtua yang bersalah. Orangtua bisa saja benar jikalau pilihan anak itu bukanlah pilihan asli dari pribadi sang anak. Namun, sudah tercampur pengaruh dari teman-temannya yang mengharapkan hal serupa. Biasanya orangtua tipe seperti ini yang pandai melihat potensi pada seorang anak. Namun, orangtua bisa saja salah karena sang ayah dan ibu tak pandai untuk melihat potensi yang ada pada diri seorang anak. Orangtua seperti inilah yang masih berpola pikir zaman meganthropus. Yang penting 'asal jadi ini atau itu kamu pasti akan sukses'. Padahal jika tak berpotensi di suatu bidang juga tak akan sukses di bidang tersebut.

Kita, sebagai generasi muda yang masih sangat labil dalam segala bidang, seharusnya kita bisa pandai-pandai untuk memilih dan berpandangan mana yang baik dan mana yang buruk. Jangan hanya mengekor di balik teman yang tak selamanya memberikan pengaruh positif. Kita harus mempunyai pandangan tersendiri terhadap suatu masalah atau pilihan. Karena itulah hidupmu, dan itulah masa depanmu. Pilih jalur yang kamu anggap tepat, serta bersiaplah untuk menerima resiko yang akan dihadapi. Karena semua pilihan pasti ada resikonya. Entah pilihan yang bersifat baik dengan resiko dicap 'sok alim' atau semacamnya, dan pilihan yang bersifat buruk dengan resiko cap 'bad boy' yang akan senantiasa melekat padamu. Serta balasan dari tuhanmu untuk pilihan yang kamu ambil tentunya.
10.09.2011 0 komentar

Presepsi Purba Kala

Beberapa hari yang lalu, sekolahku mendapat kunjungan dari salah seorang putra bangsa yang berhasil mengadu nasib di luar negeri. Tepatnya di amerika. Dia bernama Mr. Patriawan. Beliau merupakan seorang yang bekerja di perusahaan penerbangan di amerika. Beliau menempati posisi yang strategis di mana tak banyak orang yang dapat menghuni posisi itu. Saya kurang tahu posisi apakah itu karena yang saya dengar hanya seperti itu. Ia merupakan salah satu korban dari pemutusan hubungan kerja oleh PT Dirgantara akibat dari krisis moneter pada tahun 1998. Dan peristiwa itu merupakan awal dari perubahan dalam hidupnya.

Menurutku, ia bukanlah seseorang yang istimewa. Karena ia hanya bercerita tentang perjalanan hidupnya dan aku menganggap semua itu wajar-wajar saja. Tapi ada suatu hal yang kuanggap menarik ketika beliau bercerita. Yaitu ketika salah seorang temanku bertanya "Pak, biasanya orang yang bisa bekrja di luar negeri dan sukses itu kan orang yang pinter banget. Lha gimana sama saya? Saya kan orangnya gak pinter. Otak saya pas-pasan. Gak encer kayak bapak." Kemudian Pak Patriawan menjawab,"Kita sebagai manusia nggak boleh ngrendahin diri kayak gitu. Masih banyak cara buat sukses di luar negeri. Mereka sama kayak kita. Gak ada yang spesial di sana. Toh banyak penari-penari daerah kita yang sukses di sana menjadi penari. Itu kan buktinya. Sukses di luar negeri gak harus pinter di otak. Tapi juga bisa pinter dalam hal yang lain.Yang penting kita bisa memaksimalkan potensi kita."

Setelah itu saya pun langsung berpikir. Apakah ini yang dimaksud dengan penyeragaman presepsi? Orang-orang di sekitarku ada yang hanya mengartikan sempit sebatas pintar dalam akademis semata. Sebenarnya pintar mempunyai arti yang sangat luas. Tidak hanya pintar di akademis, tapi bisa juga di dalam kreativitas, bersosial, beragama dan masih banyak pintar-pintar yang lain. Mungkin masyarakat kita sudah terbiasa mengartikan pintar yang sebatas di akademis. Sehingga pintar selalu identik dengan nilai di atas kertas yang sekarang dapat kita beli.

Masyarakat kita tidak terbiasa untuk berpikir luas nan kritis. Itulah sebabnya penyeragaman presepsi sangat marak di negeri ini. Sehingga menjadikannya sendiri untuk selalu mengekor terhadap suatu pola pikir atau main set yang telah ada. Selalu mengikuti tanpa tahu salah atau benarnya suatu presepsi sudah menjadi sebuah adat yang mendarah daging. Jika sudah mendarah daging seperti itu maka akan sangat susah di ubah. Karena semua itu sudah menjadi bagian dalam hidup. Mungkin hal tersebut yang menyebabkan negara kita selalu mengikut dengan semua budaya yang masuk ke negeri ini. Entah itu bersifat membangun ataupun merusak.

Kita, sebagai generasi muda seharusnya lebih berpikir luas dan tidak selalu mengekor dengan segala pemikiran yang sudah ada. Karena tak semua pola pikir yang terdapat di masyarakat itu baik dan benar. Sehingga kita harus mempunyai filter dari wawasan yang kita miliki untuk menyaring mana yang baik dan mana yang buruk agar tak terjebak dalam paradigma sempit nan dangkal. Yang mana selalu mengikuti pola pikir yang telah ada tanpa ada inovasi untuk memperbaikinya. Maka, Jadilah pelopor inovasi yang cerdas dan bukan sebagai bebek yang selalu mengikuti tanpa ada makna ataupun arti yang jelas.
 
;